Cara Silang Lovebird Menghasilkan Lutino | Silang Lovebird

- Agustus 19, 2017

Cara Silang Lovebird Menghasilkan Lutino | Silang Lovebird

 

Cara menyilang lovebird supaya beranak lutino ataupun albino

Satu dari sekian banyaknya daya tarik lovebird merupakan lantaran warna-nya yng indah. Oleh lantaran itu, dalam pengembangbiakan lovebird umumnya direncanakan suatu pengembangbiakan lovebird yang dengannya pola warna tertentu.

Hal ini memanglah memungkinkan serta telah tidak sedikit yng sukses mengembangbiakkan lovebird yang dengannya warna-warna tertentu. Umumnya warna-warna yng langka akan membuat harga lovebird menjadi Amat tinggi.Dalam merencanakan warna bulu pada pengembangbiakan lovebird tak bisa dilepaskan dari hukum genetik. Secara umum, sudah diketahui bahwasanya dari pasangan yng dikawinkan maka sifat anak-anak 50% meniru induk betina serta 50% meniru induk jantan. Yang dengannya kata lain sifat anak adalah perpaduan 1/2 sifat induk jantan serta 1/2 sifat induk betina. Sifat-sifat yng diturunkan ini pun masih dipengaruhi oleh sifat resesif serta sifat mayoritas yng dimiliki oleh pasangan yng dikawinkan.Bagi atau bisa juga dikatakan untuk menentukan sifat resesif serta mayoritas ini bisa diperkirakan sesudah suatu pasangan yng berlainan sifatnya (dalam hal ini warna bulu) menurunkan dua-tiga periode keturunan. Bila keturunan pada periode-periode yang telah di sebutkan cenderung memiliki hasil yng relatif percis maka bisa diperkirakan sifat mayoritas serta resesif yng ada pada induk jantan serta ataupun induk betina. Didasari pengalaman-pengalaman ini dia lantas bisa disusun program perencanaan warna bulu pada anak lovebird dari pasangan-pasangan yng dipelihara.Berkaitan yang dengannya pengembangbiakan lovebird bagi atau bisa juga dikatakan untuk memperoleh warna bulu yng berbeda maka pengetahuan dasar mengenai genetik Amat penting diketahui oleh penangkar. Yang dengannya pengetahuan dasar genetik yang telah di sebutkan memungkinkan penangkar bagi atau bisa juga dikatakan untuk mengawinsilangkan lovebird menjadikan bisa diperoleh anak lovebird yang dengannya warna bulu yng dimau-kan.A. Genetika menjadi Pengetahuan Dasar Pengembangbiakan LovebirdGenetika merupakan ilmu wacana keturunan ataupun asal-usul mahluk hidup. Dalam ilmu ini dipelajari tatacara suatu sifat (karakter) diturunkan kepada keturunannya.Unit terkecil bahan sifat keturunan merupakan gen. Gen terdapat atau terletak pada kromosom serta tersusun secara linear. Dalam setiap sel tubuh terdapat sepasang kromosom. Yang dengannya sendirinya gen-gen pada kromosom berpasangan serta pasangan gen yang telah di sebutkan terdapat atau terletak pada lokus yng percis. Gen-gen yng terdapat atau terletak pada lokus yng percis mempunyai pekerjaan yng percis, hampir percis, ataupun berlawanan, namun bagi atau bisa juga dikatakan untuk satu tugas tertentu. Menjadi semisal, gen G bersama alelnya g bekerja bagi atau bisa juga dikatakan untuk menumbuhkan pigmentasi warna bulu. Gen G bisa atau mampu bagi atau bisa juga dikatakan untuk berpigmentasi, sedangkan gen g tak bisa atau mampu berpigmentasi. Tugas gen yang telah di sebutkan berlawanan, namun bagi atau bisa juga dikatakan untuk tugas yng percis yakni pigmentasi warna bulu.Selama proses reproduksi, satu set kromosom diturunkan dari setiap induknya kepada anaknya. Sperma serta sel telur cuma berisi 1/2 dari jumlah kromosom yng ada di sel lain-lainnya pada tubuh. Jadi, disaat dua dari “setengah kelompok” bersatu pada waktu proses pembuahan telur oleh sperma terbentuk suatu gabungan yng diturunkan pada anaknya.Dalam genetika, bentuk luar ataupun fakta karakter yng dimiliki suatu individu (misalnya: warna hijau pada bulu) dikenal yang dengannya sebutan fenotip. Sementara bentuk susunan genetik suatu karakter yng dimiliki suatu individu serta ditulis yang dengannya simbol gen dikenal yang dengannya sebutan genotip. Simbol gen bagi atau bisa juga dikatakan untuk lovebird yng bulunya berwarna normal (hijau) ditulis GG. Lovebird yng berbulu lutino, biru, serta warna mutasi lain-lainnya ditulis gg. Lovebird yng mempunyai simbol gen yng percis (pasangan kedua alel pada suatu individu percis), misalnya GG serta gg, disebut homozigot.GG merupakan pasangan homozigot yng bersifat mayoritas, sedangkan gg merupakan pasangan homozigot yng bersifat resesif. Hal ini berguna bahwasanya warna lovebird yng normal (hijau) merupakan mayoritas terhadap warna mutasi. Andaikan lovebird mempunyai simbol gen yng berbeda (pasangan kedua alel pada suatu individu tidak percis), misalnya Gg, disebut heterozigot. Lovebird yng mempunyai genotip yng heterozigot (Gg) maka akan menunjukan warna bulu hijau. Warna hijau merupakan mayoritas terhadap warna mutasi serta warna mutasi yang telah di sebutkan tertutup oleh warna hijau menjadikan tak terlihat dari penampilannya.B. Program Persilangan bagi atau bisa juga dikatakan untuk Menghasilkan Warna Mutasi BuluGen bisa mengalami mutasi lebih dari sekali menjadikan bisa terbentuk 2 ataupun lebih jenis alel bagi suatu gen. Gen G berperan bagi atau bisa juga dikatakan untuk menumbuhkan warna bulu secara normal lantas gen G mengalami mutasi. Yang dengannya demikian, gen G tak bisa atau mampu mengadakan warna bulu secara normal menjadikan akan menghasilkan warna bulu lain-lainnya, semisal albino serta lutino. Gen G yng bermutasi itu diberi simbol g. Gen yng mengalami mutasi yang telah di sebutkan ditulis yang dengannya huruf kecil lantaran karakter yng ditumbuhkan bersifat resesif.Pengertiannya, bila gen g terdapat pada satu tubuh yang dengannya gen G maka gen g akan ditutupi ataupun dikalahkan. Fenomena mutasi gen ini bisa dimanfaatkan bagi atau bisa juga dikatakan untuk tujuan pengembangbiakan lovebird menjadikan diperoleh lovebird yang dengannya warna bulu yng diharapkan, yakni percis ataupun berbeda yang dengannya induk jantan serta betinanya. Bagi atau bisa juga dikatakan untuk tujuan komersial, tatacara ini cukup menguntungkan lantaran lovebird yang dengannya warna mutasi memiliki daya jual yng lebih tidak murah.Jenis lovebird yng tidak sedikit dijual di pasar burung di Indonesia merupakan lovebird ‘muka salem’, lovebird kacamata ‘fischer’, lovebird kacamata ‘topeng’, serta lovebird hasil mutasi. Ketiga jenis lovebird yang telah di sebutkan bisa gampang dikembangbiakkan bagi atau bisa juga dikatakan untuk menghasilkan lovebird warna mutasi. Di antara ketiga jenis lovebird komersial yang telah di sebutkan, lovebird ‘muka salem’ bisa menghasilkan tidak sedikit warna mutasi, semisal lutino (kuning, mata merah), golden cherry (kuning), cinnamon (cokelat kekuningan), biru pastel, pied (bercak warna), serta albino (putih, mata merah). Warna mutasi dari lovebird kacamata ‘topeng’ yng terkenal merupakan biru.Bagi atau bisa juga dikatakan untuk memperoleh anakan yang dengannya warna mutasi, penangkar Perlu memiliki induk yang dengannya warna mutasi. Andaikan ingin diperoleh anak yang dengannya warna mutasi dari kedua induk yng berbulu normal maka tatacaranya Amat rumit serta butuh waktu yng Amat lama. Yang akan di sajikan kali ini contoh-contoh program perencanaan warna bulu pada anak lovebird dari pasangan-pasangan yng dipelihara.1. Lutino serta albinoLutino serta albirto pada lovebird ‘muka salem’ merupakan bentuk dari mutasi rangkai kelamin resesif. Gen lutino serta albino terdapat atau terletak pada kromosom kelamin. Oleh lantaran itu, karakter yng ditimbulkan gen ini diturunkan bersama yang dengannya karakter kelamin. Selain kedua bentuk mutasi yang telah di sebutkan, bentuk mutasi bulu lain yng melibatkan rangkai kelamin resesif merupakan cinnamon murni ataupun hasil mutasi yng bermata merah.Perhatikan digram di bawah ini:Satu dari sekian banyaknya daya tarik lovebird merupakan lantaran warna-nya yng indah. Oleh lantaran itu, dalam pengembangbiakan lovebird umumnya direncanakan suatu pengembangbiakan lovebird yang dengannya pola warna tertentu. Hal ini memanglah memungkinkan serta telah tidak sedikit yng sukses mengembangbiakkan lovebird yang dengannya warna-warna tertentu. Umumnya warna-warna yng langka akan membuat harga lovebird menjadi Amat tinggi.Dalam merencanakan warna bulu pada pengembangbiakan lovebird tak bisa dilepaskan dari hukum genetik. Secara umum, sudah diketahui bahwasanya dari pasangan yng dikawinkan maka sifat anak-anak 50% meniru induk betina serta 50% meniru induk jantan. Yang dengannya kata lain sifat anak adalah perpaduan 1/2 sifat induk jantan serta 1/2 sifat induk betina. Sifat-sifat yng diturunkan ini pun masih dipengaruhi oleh sifat resesif serta sifat mayoritas yng dimiliki oleh pasangan yng dikawinkan.Bagi atau bisa juga dikatakan untuk menentukan sifat resesif serta mayoritas ini bisa diperkirakan sesudah suatu pasangan yng berlainan sifatnya (dalam hal ini warna bulu) menurunkan dua-tiga periode keturunan. Bila keturunan pada periode-periode yang telah di sebutkan cenderung memiliki hasil yng relatif percis maka bisa diperkirakan sifat mayoritas serta resesif yng ada pada induk jantan serta ataupun induk betina. Didasari pengalaman-pengalaman ini dia lantas bisa disusun program perencanaan warna bulu pada anak lovebird dari pasangan-pasangan yng dipelihara.Berkaitan yang dengannya pengembangbiakan lovebird bagi atau bisa juga dikatakan untuk memperoleh warna bulu yng berbeda maka pengetahuan dasar mengenai genetik Amat penting diketahui oleh penangkar. Yang dengannya pengetahuan dasar genetik yang telah di sebutkan memungkinkan penangkar bagi atau bisa juga dikatakan untuk mengawinsilangkan lovebird menjadikan bisa diperoleh anak lovebird yang dengannya warna bulu yng dimau-kan.A. Genetika menjadi Pengetahuan Dasar Pengembangbiakan LovebirdGenetika merupakan ilmu wacana keturunan ataupun asal-usul mahluk hidup. Dalam ilmu ini dipelajari tatacara suatu sifat (karakter) diturunkan kepada keturunannya.Unit terkecil bahan sifat keturunan merupakan gen. Gen terdapat atau terletak pada kromosom serta tersusun secara linear. Dalam setiap sel tubuh terdapat sepasang kromosom. Yang dengannya sendirinya gen-gen pada kromosom berpasangan serta pasangan gen yang telah di sebutkan terdapat atau terletak pada lokus yng percis. Gen-gen yng terdapat atau terletak pada lokus yng percis mempunyai pekerjaan yng percis, hampir percis, ataupun berlawanan, namun bagi atau bisa juga dikatakan untuk satu tugas tertentu. Menjadi semisal, gen G bersama alelnya g bekerja bagi atau bisa juga dikatakan untuk menumbuhkan pigmentasi warna bulu. Gen G bisa atau mampu bagi atau bisa juga dikatakan untuk berpigmentasi, sedangkan gen g tak bisa atau mampu berpigmentasi. Tugas gen yang telah di sebutkan berlawanan, namun bagi atau bisa juga dikatakan untuk tugas yng percis yakni pigmentasi warna bulu.Selama proses reproduksi, satu set kromosom diturunkan dari setiap induknya kepada anaknya. Sperma serta sel telur cuma berisi 1/2 dari jumlah kromosom yng ada di sel lain-lainnya pada tubuh. Jadi, disaat dua dari “setengah kelompok” bersatu pada waktu proses pembuahan telur oleh sperma terbentuk suatu gabungan yng diturunkan pada anaknya.Dalam genetika, bentuk luar ataupun fakta karakter yng dimiliki suatu individu (misalnya: warna hijau pada bulu) dikenal yang dengannya sebutan fenotip. Sementara bentuk susunan genetik suatu karakter yng dimiliki suatu individu serta ditulis yang dengannya simbol gen dikenal yang dengannya sebutan genotip. Simbol gen bagi atau bisa juga dikatakan untuk lovebird yng bulunya berwarna normal (hijau) ditulis GG. Lovebird yng berbulu lutino, biru, serta warna mutasi lain-lainnya ditulis gg. Lovebird yng mempunyai simbol gen yng percis (pasangan kedua alel pada suatu individu percis), misalnya GG serta gg, disebut homozigot.GG merupakan pasangan homozigot yng bersifat mayoritas, sedangkan gg merupakan pasangan homozigot yng bersifat resesif. Hal ini berguna bahwasanya warna lovebird yng normal (hijau) merupakan mayoritas terhadap warna mutasi. Andaikan lovebird mempunyai simbol gen yng berbeda (pasangan kedua alel pada suatu individu tidak percis), misalnya Gg, disebut heterozigot. Lovebird yng mempunyai genotip yng heterozigot (Gg) maka akan menunjukan warna bulu hijau. Warna hijau merupakan mayoritas terhadap warna mutasi serta warna mutasi yang telah di sebutkan tertutup oleh warna hijau menjadikan tak terlihat dari penampilannya.B. Program Persilangan bagi atau bisa juga dikatakan untuk Menghasilkan Warna Mutasi BuluGen bisa mengalami mutasi lebih dari sekali menjadikan bisa terbentuk 2 ataupun lebih jenis alel bagi suatu gen. Gen G berperan bagi atau bisa juga dikatakan untuk menumbuhkan warna bulu secara normal lantas gen G mengalami mutasi. Yang dengannya demikian, gen G tak bisa atau mampu mengadakan warna bulu secara normal menjadikan akan menghasilkan warna bulu lain-lainnya, semisal albino serta lutino. Gen G yng bermutasi itu diberi simbol g. Gen yng mengalami mutasi yang telah di sebutkan ditulis yang dengannya huruf kecil lantaran karakter yng ditumbuhkan bersifat resesif.Pengertiannya, bila gen g terdapat pada satu tubuh yang dengannya gen G maka gen g akan ditutupi ataupun dikalahkan. Fenomena mutasi gen ini bisa dimanfaatkan bagi atau bisa juga dikatakan untuk tujuan pengembangbiakan lovebird menjadikan diperoleh lovebird yang dengannya warna bulu yng diharapkan, yakni percis ataupun berbeda yang dengannya induk jantan serta betinanya. Bagi atau bisa juga dikatakan untuk tujuan komersial, tatacara ini cukup menguntungkan lantaran lovebird yang dengannya warna mutasi memiliki daya jual yng lebih tidak murah.Jenis lovebird yng tidak sedikit dijual di pasar burung di Indonesia merupakan lovebird ‘muka salem’, lovebird kacamata ‘fischer’, lovebird kacamata ‘topeng’, serta lovebird hasil mutasi. Ketiga jenis lovebird yang telah di sebutkan bisa gampang dikembangbiakkan bagi atau bisa juga dikatakan untuk menghasilkan lovebird warna mutasi. Di antara ketiga jenis lovebird komersial yang telah di sebutkan, lovebird ‘muka salem’ bisa menghasilkan tidak sedikit warna mutasi, semisal lutino (kuning, mata merah), golden cherry (kuning), cinnamon (cokelat kekuningan), biru pastel, pied (bercak warna), serta albino (putih, mata merah). Warna mutasi dari lovebird kacamata ‘topeng’ yng terkenal merupakan biru.Bagi atau bisa juga dikatakan untuk memperoleh anakan yang dengannya warna mutasi, penangkar Perlu memiliki induk yang dengannya warna mutasi. Andaikan ingin diperoleh anak yang dengannya warna mutasi dari kedua induk yng berbulu normal maka tatacaranya Amat rumit serta butuh waktu yng Amat lama. Yang akan di sajikan kali ini contoh-contoh program perencanaan warna bulu pada anak lovebird dari pasangan-pasangan yng dipelihara.1. Lutino serta albinoLutino serta albirto pada lovebird ‘muka salem’ merupakan bentuk dari mutasi rangkai kelamin resesif. Gen lutino serta albino terdapat atau terletak pada kromosom kelamin. Oleh lantaran itu, karakter yng ditimbulkan gen ini diturunkan bersama yang dengannya karakter kelamin. Selain kedua bentuk mutasi yang telah di sebutkan, bentuk mutasi bulu lain yng melibatkan rangkai kelamin resesif merupakan cinnamon murni ataupun hasil mutasi yng bermata merah.Perhatikan digram di bawah ini:Pada burung, kromosom kelamin betina merupakan ZW serta kromosom jantan merupakan ZZ (pada binatang mamalia kromosom kelamin betina merupakan XX serta kromosom jantan merupakan XY). Hal ini berguna bahwasanya lovebird betina menghasilkan telur yng membawa Z serta W, sedangkan lovebird jantan menghasilkan sperma yng cuma membawa Z. Andai resesif gen mutan berlangsung pada kromosom Z yng tak ada pasangannya yang dengannya kromosom W yng lebih pendek maka tak berlangsung pindah silang gen mutan yang telah di sebutkan.
Yang dengannya demikian, lovebird betina cuma memerlukan satu gen resesif (semisal: g) bagi atau bisa juga dikatakan untuk memperlihatkan adanya mutasi dalam penampilannya, sedangkan lovebird jantan memerlukan dua resesif gen (semisal: gg). Oleh lantaran keturunan yng berupa ZW merupakan betina serta ZZ merupakan jantan, pewarisan kromosom Z akan mengikuti pola khas: induk betina akan meneruskan kromosom Z cuma kepada keturunan jantannya, sedangkan induk jantan akan meneruskan kromosom Z kepada keturunan jantan serta betina. Itulah sebabnya anak betina akan selalu mewarisi kromosom Z dari induk jantan lantaran induk betina pasti sudah menyumbangkan kromosom W. Lagi juga, induk betina bisa meneruskan berita pada kromosom Z kepada cucunya cuma melalui anak-anak jantannya. Sifat genetik yng dilanjutkan yang dengannya pola khas ini disebut rangkai kelamin.Bagi atau bisa juga dikatakan untuk mendapatkan bentuk lutino dari lovebird ‘muka salem’ bisa dilihat pada Tabel 1. Gen mayoritas bagi atau bisa juga dikatakan untuk warna hijau normal mempergunakan simbol G.Tabel 1:Yang dengannya demikian, pejantan warna hijau normal mempunyai genotip GG, betina hijau normal merupakan G-, jantan lutino merupakan gg, jantan hijau normal ataupun pembawa sifat lutino merupakan Gg, serta betina lutino merupakan g-.Andaikan ingin diperoleh cukup tidak sedikit anak lovebird berbentuk lutino dari sepasang lovebird yng ditangkarkan maka sebaiknya kegiatan penangkaran dimulai yang dengannya menangkarkan sepa-sang lovebird yng terdiri dari betina normal serta jantan lutino (Diagram l).Diagram 1:Yang dengannya tatacara ini bisa diharapkan diperoleh 50% anak lutino pada generasi pertama. Hal ini tak barangkali berlangsung bila sepasang lovebird yng dikawinkan merupakan betina lutino yang dengannya jantan normal homozigot (Diagram 2).Diagram 2:Keuntungan lain dari penggunaan pasangan betina normal yang dengannya jantan lutino merupakan bisa diketahuinya jenis kelamin anak disaat berada di sarang, yakni sebelum bulunya muncul. Anak yng betina (lutino) memiliki mata berwarna merah, sedangkan anak jantan (normal) memiliki mata berwarna gelap.Bagi atau bisa juga dikatakan untuk menghasilkan anak lovebird albino maka butuh dimulai yang dengannya menyilangkan lovebird betina warna biru (BBb-) yang dengannya lovebird jantan lutino (BBll). Persilangan kedua induk lovebird yang telah di sebutkan menghasilkan keturunan pertama (F1) anak betina lutino ataupun biru (Bbl-). Selain itu, dibutuhkan pula pejantan yang dengannya genotip yng percis (Bbll) yng diperoleh dari hasil perkawinan induk betina lutino (BBl-) yang dengannya induk jantan biru ataupun lutino (Bbll). Perkawinan antara kedua keturunan F1 (Bbl- x Bbll) yang telah di sebutkan bisa dilihat pada Tabel 2.Program persilangan bagi atau bisa juga dikatakan untuk mendapatkan anak bentuk albino serta lutino di atas bisa diterapkan bagi atau bisa juga dikatakan untuk lovebird jenis lain yng memiliki kedua bentuk mutasi yang telah di sebutkan.2. Warna biru serta warna mutasi lainnyaPerkawinan antara lovebird kacamata ‘topeng’ yng berbulu normal (hijau) yang dengannya yng berbulu biru adalah satu dari sekian banyaknya semisal dari pasangan resesif yng melibatkan otosom (Tabel 3). Otosom adalah kromosom yng tidak menentukan jenis kelamin.Tabel 3:Warna hijau mayoritas terhadap warna biru. Bentuk genotip warna hijau merupakan GG, sedangkan warna biru merupakan resesif yang dengannya genotip gg. Jadi, seluruh sel kelamin dari induk yng mayoritas akan memiliki kandungan satu gen G, sedangkan induk yng resesif akan memiliki kandungan satu gen g. Berguna seluruh anak akan mendapatkan satu gen G serta satu gen g dari setiap induknya. Hal ini terang terlihat bahwasanya seluruh anak pada generasi pertama (F1) akan memiliki genotip Gg (Diagram 3).Hal ini berguna secara fenotip anak lovebird yang telah di sebutkan berwarna hijau, namun anak lovebird yang telah di sebutkan membawa gen warna biru pada genotipnya. Jadi, anak lovebird yang telah di sebutkan bersifat heterozigot.Disaat lovebird heterozigot yang telah di sebutkan dikawinkan maka pasangan lovebird tersobut akan menghasilkan anak yng berwarna hijau serta berwarna biru pada generasi kedua (F2). Perbandingan harapan dari anak lovebird warna hijau terhadap biru merupakan 3 : 1 yang dengannya satu pertiga anak lovebird berwarna hijau homozigot (GG), dua pertiga warna hijau heterozigot serta pembawa sifat warna biru (Gg), dan satu pertiga warna biru (gg).Pasangan otosom resesif lain-lainnya antara lain merupakan perkawinan antara lovebird ‘muka salem’ yng berbulu normal yang dengannya yng berbulu biru pastel, serta perkawinan antara jenis lovebird berbulu normal yang dengannya lovebird warna mutasi lain-lainnya.Warna bulu mutasi lain-lainnya pada lovebird yng melibatkan pasangan otosom resesif merupakan pied serta golden cherry. Pada prinsipnya, bagi atau bisa juga dikatakan untuk memperoleh bulu yang dengannya warna mutasi yang telah di sebutkan hampir percis yang dengannya program persilangan bagi atau bisa juga dikatakan untuk mendapatkan bulu warna biru.


Sumber rujukan dan gambar : http://penggemarlovebird.blogspot.com/2011/12/cara-silang-menghasilkan-lutino.html.

Seputar Cara Silang Lovebird Menghasilkan Lutino | Silang Lovebird

Advertisement
 

Cari Artikel Selain Cara Silang Lovebird Menghasilkan Lutino | Silang Lovebird